P3K dalam Dzikir


Assalamualaikum Wr. Wb

Bismillahirrohmanirrohim... 

Kembali saya akan  berbagi tentang  " P3K dalam Dzikir "
Dzikir merupakan aspek yang luas dalam diri manusia. Dengan dzikir hakekatnya orang sedang berhubungan dengan Allah. Dzikir juga merupakan makanan pokok bagi hati setiap mu’min, yang jika dilupakan maka hati manusia akan berubah menjadi suram.

Rasulullah SAW  pernah menggambarkan dalam sabdanya yaitu :
عَنْ أَبِي مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الذِّي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالذِّي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan orang yang tidak berdzikir, adalah ibarat orang yang hidup dan mati." (HR. Bukhari)
Dzikir merupakan rangkaian amalan yang mulia yang mampu memberikan banyak manfaat kepada kita semua, selain itu dzikir juga merupakan amalan yang bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. 

Saya yakin kalian semua banyak mendengar tentang istilah P3K.  Apa P3K  itu ? ?? P3K merupakan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan yang tujuannya untuk memberikan pertologan ketika terjadi kecelakaan. Begitupun dalam dzikir, di dalam dzikir ada juga namanya P3K yang fungsinya sebagai pertolongan pertama bagi kita semua. 

Manfaat dzikir itu sungguh banyak diantaranya akan saya sampaikan dengan menyingkat menjadi P3K yaitu :

  1. 1.    P : Penyejuk hati 
Ketenangan jiwa sangat penting dalam hidup ini, dengan itu marilah kita perbanyak dzikir karena dzikir merupakan obat hati, dengan dzikir hati kita akan tenang, gembira, tentram, mampu merasakan manisnya iman dan keceriaan. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Qs.  Ar–Ro’du : 28
الذِّيْنَ آمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan dzikir kepada Allah. Ingatlah bahwa hanya dengan dzikrullah hati menjadi tenang.
Dengan itu yang lagi galau, mikir hutang, sedih, gundah gulana mari kita obati dengan memperbanyak dzikir. Insyaallah dengan dzikir hati kita akan tenang dan tentram.
2.      P : Pelebur Dosa
Dengan dzikir akan mendatangkan rasa takut pada Allah sehingga menundukkan pada diri padaNya. Dengan demikian kesempatan kita untuk melakukan dosa akan terkurangi. Selain itu, dzikir merupakan amalan yang mulia yang termasuk amal kebajikan, sedangkan kebajikan mampu menghapus kejelekan
3.      P : Pelunak Hati
Hati itu keras. Ibarat Batu, Jika batu yang keris mampu menjadi lubang karena sering ditetesi air hujan maka hatipun juga seperti itu. Jika kalian ingin sembuh dari kerasnya hati maka perbanyaklah dzikir kepada Allah SWT.
4.      K : Kunci dari segala perkara
Dzikir adalah ro’sul umuur. Siapa yang luput dari pintu ini maka luputlah ia dari berbagai kebaikan. Siapa yang dibukakan kemudahan dzikir maka ia akan memperoleh berbagai kebaikan.
Itulah beberapa indahnya serta dasyatnya berdzikir. Selalu ingat pada Allah tidak akan membuat manusia mengabaikan Allah, dengan segala ketentuanNya. Karenanya satu-satunya perintah Allah yang menggunakan banyak kata adalah perintah dzikir. Sebagaimana firman Allah Qs. Al- Ahzab ayat 41- 42
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا . وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.
Dzikir sungguh sangat dasyat, bukan hanya berdampak pada hablum minallah melainkan hablum minannas pun kita dapatkan. Sebagaimana sebuah kisah dari seorang penyiar agama islam dari Sragen Jawa Tengah yang sangat mencintai dzikir yaitu KH. Zaenal Mustofa. semasa hidupnya beliau tak pernah lepas dari dzikir hingga akhirnya beliau wafat dengan idzin Allah perantara dzikir tersebut beliau wafat dalam keadaan tersenyum dan memancarkan cahaya, bahkan setelah beliau wafatpun, beliau tetap disegani oleh masyarakat Sragen dengan mengenang jasanya dengan mengadakan pengajian dan dzikir bersama. Subhanallah...

 Dengan itu marilah kita menjadikan kisah cerita KH. Zaenal sebagai inspirasi untuk mencintai dzikir, memperbanyak dzikir karena semakin kita sering mengingat Allah niscaya Allah pun akan mengingat kita. Sebagaimana firman Allah Qs. Al- Baqoroh :152
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
Ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.” (QS. Al Baqarah: 152)
Semoga kita semua termasuk orang yang ahli dalam berdzikir dan mencintai dzikir dalam kondisi apapun. Aamiiin Ya Robbal ‘alamiiin




Raihlah keindahan dalam 3 hal yaitu sholat, dzikir dan tilawatil qur’an maka kalian akan mendapatkan nya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menggapai Bintang dengan Tawadhu'

Assalamualaikum Wr. Wb

Bismillahirrohmanirrahim

Kali ini saya ingin berbagi bersama kalian tentang " Menggapai Bintang dengan Tawadhu' "
 
Sering kali kita mendengar dan melihat orang berbangga dan sombong dengan dirinya sendiri. Terucap dari mulut kita ” Siapa Dulu Saya ??? Ini semua berkat usaha keras saya “. Ungkapan itu mungkin terdengar sepele tapi ungkapan tersebut secara tidak langsung merupakan kata-kata membanggakan diri  dan merendahkan orang lain. Atau mungkin karena kita merasa memiliki sesuatu  yang lebih sehingga mengejek dan merendahkan orang lain.

Semua itu kita lakukan tanpa mengetahui siapa sebenarnya yang memudahkan semua urusan itu. Tanpa menyadari bagaimana seandainya kemudahan itu tiba-tiba hilang saat kita sedang membanggakannya, atau saat itu nyawa kita dicabut sehingga menjadi orang yang merugi alias disebut dengan mati su’ul khotimah ( Na’udzu billah ) karena kita mati dalam keadaan sombong.
   
Menurut Imam al-Ghozali, sombong adalah kondisi jiwa dimana orang merasa dirinya hebat, lebih baik, lebih pintar, lebih besar, dan lebih kuat dari orang lain. Tidak akan berlaku sombong kecuali orang yang meyakini dirinya memiliki keunggulan, kelebihan, kesempurnaan yang menjadikannya berbeda dengan orang lain.

Akibat dari perasaan lebihnya itu, ia akan mudah untuk merendahkan orang lain. Lebih jauhnya lagi, seseorang yang merasa memiliki kelebihan akan memandang dirinya paling tahu dan paling pintar ibaratnya kecap no satu alias apa yang dimiliki tidak ada yang menandingi sehingga segala sesuatu yang bertentangan dengan keinginannya akan disingkirkan walaupun benar. Rosulullah SAW bersabda: “ Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain ( HR. Muslim ).

Selain itu Allah SWT melarang sikap sombong agar manusia selamat di dunia dan akhirat. Dalam firman Nya disebutkan dalam Qs. Al- Isro' : 37


وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖإِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
 
Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. ( Qs. Al- Isro : 37 )
 
Dengan kata lain sombong merupakan penyakit jiwa yang sangat berbahaya yang ganjarannya adalah neraka. Rosulullah SAW bersabda; ” Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan meskipun hanya sedikit biji sawi” ( HR. Muslim ).
 
Sifat sombong merupakan induk dari perilaku buruk yang akan memunculkan perilaku buruk lainnya. Adanya sifat sombong bisa melemahkan posisi seseorang dalam menghadapi tantangan yang muncul karena kelebihan ilmu, wawasan, atau informasi.

Hal ini berimplikasi terhadap mudahnya seseorang untuk mengambil kesimpulan,keputusan, atau bahkan memvonis keadaan. Sifat ini juga seringkali terjadi dalam bentuk menonjolkan diri sendiri melebihi kapasitas sebenarnya. Merasa diri  paling berjasa dan berperan dalam meraih keberhasilan adalah bentuk lain dari kesombongan. Padahal keberhasilan dan kemenangan pastilah diraih melalui usaha bersama dan kerjasama dari semuanya yang tak lupa semua atas izin dan pertolongan dari Allah SWT

Berbeda dengan perbuatan sombong yang dilarang, sifat tawadhu’ ( rendah hati ) justru harus dimiliki oleh seorang muslim.sebagaimana dalam hadits dikatakan :


وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَىَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِى أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas  pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865).

Derajat seseorang akan ditinggikan oleh Allah SWT dan menjadikannya mulia dihadapanNya jika bertawadhu’, sifat ini juga meminimalisir kedzoliman antara sesama muslim dan mendapatkan surga di akhirat kelak. Rosulullah bersabda: “ Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk surga? Mereka semua adalah orang lemah yang tawadhu’.” ( HR. Mutafaqun alaih ).

Dengan tawadu' kita akan menggapai bintang karena Permisalan orang yang bertawadhu’ laksana bintang nan tinggi dilangit , ia tetap akan tinggi dilangit walaupun dilihat dalam bayangan air. “Tawadhu’ takun ka an-najmi lahaa linadzirin, ‘ala safahati-l-ma’i wahuwa Rafi’un.” Dan hanya orang yang tinggi lagi mulialah yang bertawadhu’. “ Tawadhu’ idza  ma nilta fi an-nasi rif ’atan, fa inna rafi ‘ul qoumi man yatawadho’u.” 

Bertawadhu’ tak lantas membuat seseorang menjadi hina, justru dengan bertawadhu’ kehinaan akan lenyap berganti dengan kemulyaan bahkan cenderung bermanfa’at bagi orang lain.
Sebagaimana ungkapan Taufiq Isma’il dalam puisinya “Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput ,tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Kalau kamu tidak mampu menjadi jalan raya maka jadilah kamu jalan kecil, tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air. Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu. Jadilah saja dirimu dari dirimu sebaik-baiknya sendiri. 
Intinya, sombong merupakan sifat tercela yang merugikan orang lain terutama diri sendiri, sebaliknya tawadhu’ mendatangkan kemulyaan bagi si empunya, bahkan mendatangkan manfa’at bagi lingkungan sekitarnya. “ Khoiru an-nafsi anfa’uhum lin-nasi.”

Semoga kita semua selalu dalam lindunganNYA dan terhindar dari sifat sombong. Aamiiin Ya Robbal Alamiiin :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS